Posisi kampung Lawang Seketeng berada di Kel.Peneleh, Kec. Genteng, Surabaya. Diapit oleh kampung Jagalan dan Peneleh. Termasuk kampung padat penduduk. Suasana kampung masih sangat kental. Di situlah deretan kisah, cerita, dan sejarah tergelar. Rangkaian kisah itu bisa ditemukan di hampir semua bagian kampung yang terdiri dari enam gang itu.

Point of interest utama berada di GangVI atau Gang Ponten, RT 6 RW 15, yakni adanya Langgar Dukur Kayu. Disamping itu ada Al Qur’an Kuno, Makam Mbah Dimo, Rumah kayu, dan Ponten.

Disebut Langgar Dukur Kayu karena berada di lantai atas sebuah bangunan yang semua bagiannya berbahan kayu. Mulai dari tiang, dinding, dan lantai, semua terbuat dari kayu. Ditemukan oleh Laskar Suroboyo, pegiat dan pencari jejak sejarah Kota Surabaya, pada 2018 lalu. Renovasi yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Surabaya tidak merubah otentisitas dan keaslian bangunan, kecuali hanya pembetulan beberapa bagian dan dicat putih.

Konon, diceritakan Purwantono, Sekretaris Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) Lawang Seketeng, lantai bawah dulu pernah dipakai Bung Karno (Ir. H. Soekarno, Presiden RI pertama) dan juga Bung Tomo (Sutomo, pembangkit semangat perlawanan rakyat terhadap penjajah hingga pecahnya perang 10 November 1945).

“Mereka merumuskan strategi merebut kemerdekaan di situ. Seusai rapat mereka ke atas lalu mendirikan shalat,” katanya.

 

julajuli.com

Bangunan Langgar Dukur Kayu seluas 39 meter persegi itu juga menjadi tempat tinggal salah seorang warga. Sehingga, kalau hendak berkunjung dan memasuki langgar, mesti kulo nuwun dulu kepada si penghuni sebagai alasan etis.

“Awitipun jumeneng puniko langgar tahun 1893 sasi setunggal.” Itulah antara lain yang bisa Anda saksikan di langgar. Tulisan berbahasa Jawa itu menunjukkan bahwa pembangunan langgar dimulai pada Januari 1893. Itu artinya, bangunan Langgar Dukur kini sudah mencapai usia 127 tahun.

Selain itu, ada beberapa lagi yang unik seperti adanya plakat Partai NU, prasasti mimbar, daun pintu berengsel kuno, grendel kuno, kentongan, dan dinding kayu sisik. Ada pula Al Qur’an kuno yang ditulis tangan dan bersampul kulit yang usianya bisa jadi seusia Langgar Dukur. Pada tiap halaman tertera watermark Kerajaan Belanda. Watermark itu sekilas tak tampak, baru terlihat kalau disorot oleh cahaya.

Ada pula Jadwal Sholat yang ditulis oleh seorang syekh dari Pasuruan. Termasuk Rumus Hitungan Falak yang lengkap dari tahun 1303 hijriyah. Dan juga tombak berujung lancip sebagai tongkat yang biasa digunakan seorang Khatib di mimbar.

Di bagian lain, ada rumah kayu yang tetap dalam bentuknya yang asli hingga sekarang. Rumah itu beratapkan seng dan terdapat bekas tembakan peluru. Diperkirakan rumah didirikan sekitar 1930-an.

Selain memoles obyek-obyek bersejarah, infrastruktur kampung lawas juga diperbaiki. Termasuk saluran drainase, jalan kampung, dibuat menjadi lebih nyaman dan tertata. UKM warga juga akan dikembangkan.

Moch Machmud Arifin, wakil RW, mengatakan warga sedang diajak untuk memiliki produk unggulan supaya bisa menghidupkan kampung. Produk unggulan itu nantinya bisa dimanfaatkan sebagai oleh-oleh bagi wisatawan yang berkunjung ke Kampung Wisata Heritage Lawang Seketeng.

julajuli.com

Situs Tersebar

Di bagian lain masih banyak situs yang bisa disaksikan. Di Gang II ada Makam Syekh Zen Zaini Assegaf. Tak ada catatan resmi siapakah dia. Mungkin ia perantau yang tinggal di kampung ini, mungkin pula tokoh agama yang sempat mewarnai kegiatan spiritual di Langgar Dukur. Di area makam terdapat lumpang batu besar dan beberapa batu fosil. Salah satu batu itu, konon, bisa menyala jika diberi sinar.

Sementara di Gang III, terdapat Makam Mbah Pitono yang dipercaya masyarakat ia adalah guru ngaji Bung Karno semasa kecil. Ada 4 makam dalam area itu yang salah satunya nisannya berukuran lebih besar.

Ditemukan pula Sumur Tua berdiameter 60 cm yang dindingnya terbuat dari batuan padas dengan ketebalan 6 cm, lebar 15 cm, tersusun melingkar rapi. Kedalaman sumur mencapai 2,4 meter. Masih diteliti, usianya diperkirakan lebih dari 100 tahun. Boleh jadi ini sumur tua satu-satunya di Surabaya yang bisa ditemukan.

julajuli.com

Sedangkan di Gang IV, Anda bisa menyaksikan Rumah Jengki dan Rumah Puing. Rumah Jengki dibangun kira-kira pada 1930-an dengan arsitektur khas. Keaslian dan keunikan rumah ini sempat menarik sebuah rumah produksi untuk dijadikan lokasi syuting film Terbang: Menembus Langit pada 2018 lalu.

Di rumah ini pula tersimpan barang-barang kuno, seperti Lumpang Kuningan era 1861 yang berfungsi sebagai penghancur dan penghalus bahan pangan: tepung beras, misalnya. Ada Pipisan Batu yang ditaksir ada sebelum 1920. Berfungsi untuk menghaluskan bahan-bahan dapur semisal untuk membuat jamu. Dan ada pula Setrika Bajul, berbahan kuningan. Sebagaimana fungsi setrika pada umumnya, namun menggunakan arang sebagai sumber panas.

Sementara Rumah Puing diperkirakan berdiri pada 1930-an. Arsitekturnya klasik; pilarnya besar-besar, atas pintu berbentuk lengkung, atapnya berbentuk kubah. Banyak dipenuhi ornamen yang rumit dan detil, sebagaimana kita lihat di banyak gedung sekarang.

Di gang III dan IV juga banyak ditemukan saluran terakota yang terletak di bawah rumah-rumah warga. Saluran berbahan tembikar itu bermuara di drainase kampung. Total ada sekitar 14 saluran baru yang ditemukan.

julajuli.com

Warga Berbenah

Semua pihak diharapkan ikut serta dalam penataan kampung Lawang Seketeng sebagai kampung wisata heritage. Baik warga kampung, RT, RW, Pokdarwis, Lurah, dan Camat.

“Semua kita harapkan ikut berkecimpung dalam mewujudkan Kampung Heritage Lawang Seketeng ini. Dukungan Pemkot Surabaya juga kita harapkan akan terus hingga kawasan ini tertata sepenuhnya,” papar Machmud.

Hingga dikenalkan Pemkot Surabaya pada 11 November 2019 lalu, perbaikan masih terus dilakukan. Harapannya, dalam waktu dekat semua obyek bisa dilihat untuk umum. Tak terkecuali budaya baru warga menyongsong kedatangan tamu wisatawan.

Antiek Sugiharti, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surabaya, mengatakan pihaknya masih sebatas mengenalkan kawasan baru itu sebagai Kampung Heritage. Meski demikian, sudah banyak yang penasaran dan berkunjung ke kampung Lawang Seketeng.

Karena itu, harapnya, warga di Kampung Lawang Seketeng bisa siap-siap menyambut kedatangan wisatawan. Boleh jadi situasinya tidak seperti sebelumnya. “Ketika banyak tamu wisatawan, warga diharapkan tetap terbuka dan siap repot dengan segala kunjungan. Warga juga bisa mulai membuat menu unggulan, jajanan, atau cemilan yang bisa menjadi oleh-oleh khas Lawang Seketeng,” paparnya.