Apa yang ada di benak Anda, ketika mendengar kata merajut disebut? Tergambar seorang nenek tua, duduk di kursi goyang dengan dua jarum rajut, ditemani gulungan benang. Itu saja?

Ternyata tidak, kini merajut punya banyak penggemar. Setidaknya mereka berkumpul dalam komunitas merajut Surabaya, dengan nama Le. Tricoteur. Menyatukan kegemaran, saling belajar dan berkarya bersama melahirkan barang berguna, bahkan bernilai ekonomis.

Sekira di permulaan 3-4 tahun lalu, Novy Alfeeya dan temannya, Yosy, saling kenal dalam sebuah komunitas kerajinan tangan. Keduanya sama-sama bisa merajut, maka membuat karya, lalu ikut event creative market di sebuah mall di Surabaya.

julajuli.com

Memajang seluruh karya rajutan mereka. Beberapa pengunjung yang datang ke standnya, mengira mereka berdua dari komunitas merajut. Mulai banyak pertanyaan, seperti di mana komunitasnya? Bisa ikut belajar tidak, dan sebagainya.

“Mereka yang berminat ternyata banyak, mulai dari mahasiswa, karyawati, ibu-ibu, hingga nenek-nenek. Maka, mulai kami mencari komunitas merajut di Surabaya,” kisahnya.

Mereka menemukan komunitas merajut yang sebelumnya ada, namun tidak terlalu aktif berkegiatan. “Kemudian mulai kami inisiasi untuk membentuk komunitas merajut. Kami pilih nama Le.tricoteur, yang berarti Sang Perajut, dari Bahasa Perancis,” ungkapnya.

Kegiatan merajut bisa dijadikan obat mengusir kejenuhan, bisa dilakukan di mana saja. Dengan bahan sederhana bisa menghasilkan banyak barang. Menyebar virusnya melalui sosial media. Komunitas ini bersifat open, tanpa syarat kecuali berminat pada merajut.

Ketika ditanya kenapa memilih nama yang terasa agak sulit penyebutannya? Novy sepakat sama temannya, sengaja agar mudah diingat. “Biar orang-orang ingat, komunitas itu loh, yang namanya sulit nyebutnya!,” terangnya diiringi tawa ringan.

julajuli.com

Melalui sosial media, facebook dan instagram, posting-postingan mereka mengajak siapapun yang bisa merajut untuk mentions. Sekira bulan Agustus 2016, merupakan acara gathering pertama. “Semua anggota diajak berkumpul untuk merajut bareng. Bikin project bareng, ketika itu masih trend Pokemon Go. Itu dijadikan tema, semua merajut membuat bola Pokemon,” kisah Ibu 1 putra ini.

Ada 15 orang dari Surabaya yang baru kenal. Sekarang lebih banyak aktif di instagram, mengingat anak-anak muda sekarang lebih gemar main di Instagram. Dari anggota yang datang di gathering pertama kali, kemudian mengajak teman di pertemuan bulanan berikutnya. Hingga sekarang sudah bertahan selama 3 tahun setengah. Anggota aktif 20-25 yang rutin kumpul. Sementara follower di instagram sudah 1.284 orang.

julajuli.com

Biasanya ketika kumpul, anggota yang pintar akan membantu mengajari bagi yang belum bisa. Juga mengadakan pelatihan merajut untuk umum, sudah lebih dari 5 kali menggelar kegiatan ini.

“Kami sering menggelar kegiatan dan bekerja sama dengan pihak lain dalam bidang charity. Hingga sekarang yang paling sering bekerja sama dengan Knitted Knockers Indonesia (KKI),” papar ibu 32 tahun ini.

KKI merupakan organisasi nasional untuk survivors kanker payudara, yang menyediakan prosthesis payudara. Komunitas merajut Surabaya dipercaya untuk wilayah Jawa Timur untuk menyediakan dan mengajarkan dalam pembuatan prosthesis payudara dengan bahan benang yang dirajut.

Pernah juga bekerja sama dengan komunitas Merajut Malang dalam sebuah program penggalangan dana untuk anak-anak penyandang kanker. “Jadi yang aling sering mengikuti acara ke luar kota untuk mendukung acara amal. Kami ingin lebih banyak rajutan untuk amal, ini sejalan dengan interest anggota komunitas yang lain,” urainya lagi.

Anggota komunitas sangat antusias ketika diminta berpartisipasi membuat produk rajutan untuk kegiatan amal. Seperti yang digelar bulan Oktober ini, membuat syal dan topi rajutan untuk anak yang masih dalam terapi pengobatan kanker di salah rumah sakit di Jakarta. Anggota sekarang lebih banyak yang muda, antara 23–35 tahun, namun ada juga yang siswa SMA dan ada juga yang usia 45 tahun.

julajuli.com

Gathering anggota biasanya merajut bareng, paling gampang membuat gelang. Namun kerap juga mengerjakan project tertentu. Merajut bagi orang yang baru belajar, bisa cukup lama. Membuat bola saja bisa memakan waktu hingga 4 jam. Tidak heran, karena merajut itu juga harus belajar pola, teknik tusukan jarum kaitnya. Sehingga cukup memakan waktu bagi yang baru belajar. Namun bagi mereka yang sudah mahir, sehari bisa dapat satu topi anak.

Konon, kegemaran merajut itu sangat murah, kalau pengeluaran benang 10-15 ribu Rupiah. Harga Hakpen mulai dari 15-20 ribu Rupiah. Tidak mahal, apalagi bila menghasilkan barang yang bisa dijual mahal. Hubungi komunitas ini via akun Instagram @le.tricoteur, bila Anda berminat.