UKM Sinematografi Universitas Airlangga menggelar program pemutaran film bertajuk Re:Play (Re: Perfection, Laugh, Acceptance, Yearn). Ada 10 film yang diputar di House of Sampoerna yang terdiri atas film buatan mahasiswa Unair dan film karya sineas lokal yang karyanya sudah diputar di layar di luar Re: Play.

Salah satu film tamu yang diputar hari itu adalah Jaler, yang berasal dari Banyuwangi. Nada Leo Prakasa, Sutradara Jaler menuturkan film ini mengambil jalan cerita tentang penari gandrung laki-laki di Banyuwangi. “Awalnya saya dapat cerita dari produser saya kalau gandrung di Banyuwangi ini pertama kali diperankan oleh laki-laki. Kami pingin menyampaikan pesan kalau semua gender itu dapat berkarya. Tari gak selalu identik dengan perempuan dan tidak ada batasan,” tutur Leo pada Jumat (24/1).

julajuli.com

Selain Jaler, karya sineas lainnya berjudul Shitpost, Wangsul, Kreditbell juga diputar. Hari Agung Wijaya, Ketua Panita Re:Play berharap acara ini dapat memberikan sumbangsih dalam dunia film indie di Surabaya. “Sesuai temanya, Re:Play merupakan sentilan sosial terhadap berbagai masalah dalam kehidupan. Kami harap para sineas muda dapat menciptakan cipta, rasa dan karsa tentang perbaikan dari setiap problematika yang terjadi melalui film,” harap Hari.